Contoh Makalah Pendidikan di Era Globalisasi 2016, kali ini saya mencontohkan makalah pendidikan di era globalisasi 2016, yang dibuat salah satu teman saya yang meminta bantuan pengerjaan pengetikannya kepada saya. Dan dalam penerbitan ke blog ini saya sudah mendapatkan izin dari pemilik
makalah pendidikan di era globalisasi 2016 ini, sebagai bahan rujukan bagi teman-teman lain yang sedang mencari bahan contoh makalah pendidikan di era globalisasi 2016 ini.
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. bahwa kami telah menyelesaikan
tugas mata pelajaran makalah Bahasa Indonesia dengan Karya Tulis Ilmiah dengan
judul/topic Pendidikan Di Era Globalisasi.
Dalam
penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi.
Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan dan bimbingan guru, sehingga kendala-kendala yang
penulis hadapi teratasi.
Semoga
materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang
membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai, Aamiin.
Tak
ada gading yang tak retak, mohon maaf bila ada salah kata. Terimakasih.
|
|
Tasikmalya, Januari
2016
Penulis
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
I.1 Latar belakang masalah
................................................................................................ 1
I.2 Permasalahan ................................................................................................................ 2
I.3 Tujuan Karya Tulis
....................................................................................................... 2
I.4 Manfaat/kegunaan ......................................................................................................... 2
I.5 Metode Penelitian
......................................................................................................... 2
I.6 Sistematika ................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 3
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 5
III.1 Kesimpulan
................................................................................................................. 5
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar
Belakang Masalah
Kalau
sistem persekolahan muncul sebagai konsekuensi dari proses industrialisasi dan
urbanisasi yang menjadikan pendidikan persekolahan (school education) sebagai
tiang pembangunan negara peradaban (civilizational state), maka pendidikannasional di era globalisasi merupakan suatu gerakan pendidikan yang mengiringi gerakan negara
kebangsaan di Eropa, terutama di Jerman. Hal ini dikemukakan oleh john Dewey
yang menyatakan “under the influence of German thought in pasrticular,
education become a cicic function and the civic function was identified with
the realization of the ideal of the national state”
Selanjutnya
Dewey untuk memperjelas aalasan mengapa Jerman menempuh kebijakan ini, dia
menyatakan : “The historic
situation to which referencce is mande in the after effects of the napoleonc
conquests especially in Germany, the German states felt (subsequent events
demonstrate the correctness of the belief) that systematic attention to
education was the best means of recovering and maintaining their polotical
integrity and power”
Sengaja
dikutip pengamatan Dewey tentang gerakan pendidikan nasional di era globalisasi dalam kaitanya
dengan pembangunan negara bangsa (nation state), karena dalam perenungan
analitik penulis, digariskannya ketentuan dalam UUD 1945 tentang perlu
diselenggarkannya “sistem pengajaran nasional” serta tujuan “mencerdaskan
kehidupan bangsa” hakkatnya merupakan hasil refleksi yang mendalam dari para
pendiri Republik tentang nasib bangsanya dan diilhami oleh gerakan negara
kebangsaan yang didukung oleh sistem pendidikan nasional di era globalisasi yang berlangsung di
eropa. Tidak lain karena dalam pengamatan perbandingan sejarah, penulis
menemukan kesejajaran antar latar belakang sejarah gerakan negara bangsa di
Eropa dan latar belakang sejarah yang mengilhami para pendiri Republik
melakukan gerakan membangun negara bangsa sejak permulaan abad ke-20.
Kiranya
perlu dicatat bahwa sampai akhir abad ke-16 Eropa yang terdiri dari
kerajaan-kerajaan kecil merupakan wilayah jajahan baik oleh imperium Islam
sampai cordoba, Otoman Turki sampai Wina, dan Imperium Mongol. Halnya sama
dengan Indonesia yang runtuhnya majapahit menjadi kerajaan-kerajaan kecil di
jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara, maupun
Irian yang merupakan bagian dari tidore, satu persaatu dikalahkan dan dikuasai
oleh pedagang dari Eropa (Belanda, Inggris, dan Portugis). Karena itu pendiri
Republik yang memandang Indonesia sebagai pewaris imperium Sriwijaya dan
Majapahit yakin seperti yakinnyaOtto von Bismark (Jerman), Garibaldi (Italia),
Napoleon (Perancis), dan King Arthur (Inggriis) bahwa dengan disatukannya
berbagai kerajaan kecil menjadi satu negara bangsa yang kokoh yang sukar
dikuasai oleh kekuatan asing.
I.2
Permasalahan
Di eraglobalisasi ini yang di negara maju masyarakatnya sudah memasuki era pasca
modern, di tanah air Indonesia ini ada kesan diabaikannya pendidikan nasional
dan konsep negara kebangsaan
Menganalisis
pentingnya peranan pendidikan nasional di era globalisasi pada berbagai negara yang kini menjadi
negara maju seperti Jerman, Amerika Serikat, Jepang dalam pembangunan negara
bangsa.
I.3 Tujuan
Karya Tulis
I.4 Metode
Penelitian
Untuk
dapat memiliki informasi yang ada, penulis mencari informasi dalam buku “Ilmu
dan aplikasi Pendidikan”
I.5
Kegunaan/Manfaat
I.6 Sistematika
Di dalam
karya ilmiah ini akan meliputi 3 bab. Bab pertama yaitu pendahuluan meliputi
latar belakang, pembahasan, tujuan, metode penelitian, manfaat. Di bab kedua
yaiutu berupa pembahasan, inti dari karya tulis ini atau isi dari karya
tulisnya. Di bab ketiga berupa penutup meliputi Kesimpulan atau saran.
Contoh Makalah Pendidikan di Era Globalisai 2016
BAB II
Pembahasan
II.1 Makna
Pendidikan Nasional di Era Globalisasi
Di era
globalisasi ini yang di negara maju masyarakatnya sudah memasuki era pasca
modern, ditanah air Indonesia ini ada kesan diabaikannya “Pendidikan Nasional”
dan konsep negara kebangsaan. Padahal negara-negara yang sekarang termasuk
dalam jajaran negara maju seperti Amerika Serikat, Britania Raya, Perancis,
Jerman, dan Jepang adalah negara maju yang kemajuannya didukung oleh sistem
pendidikan nasional untuk membangun negara bangsa mereka masing-masing.
Tingkahlaku dan sikap politik amerika serikat yang melakukan berbagai expansi
politik dan ideologi, hakekatnya merupakan perpanjangan dari persepsi dirinya
sebagai negara bangsa dan peranannya dalam peraturan dunia.
Gerakan
nasionalisme etnis yang memporak porandakan negara Balkan dan negara-negara
asia tengah dari uni sofiet tidak melunturkan semangatt negara bangsa yang
tumbuh sejak akhir abad ke 18 untuk memperkuat jati dirinya sebagai negara
bangsa. Konsensus nasional seluruh kekuatan politik di masing-masing
negara tidak dapat digoyahkan. Jarang kita membaca dan mendengar ada LSM di
Amerika Serikat yang ikut mengajukan pemerintah negaranya ke lembaga
internasional karena pelanggaran HAM seperti yang terjadi dalam perang Irak dan
Afganistan. Betapa bersatunya bangsa Italia karena seorang warga negaranya
tertembak dalam penyelamatan sandra di irak.
Hal ini
terjadi dengan LSM di Indonesia Pada saat wartawan/wartawati TV Metro disandera
di Irak; yang bertindak adalah lembaga resmi pemerintah dan tokoh-tokoh
nasional. Tetapi sebaliknya LSM kita menjadi peluang kemanusiaan internasional
untuk mengusut berbagai pelanggaran HAM seperti di Timor Timur pasca jajak
pendapat hakekatnya dapat mencoreng wajah bangsa. Tetapi sebaliknya tidak ada
LSM yang merasa tersinggung dengan gejolak pelanggaran perbatasan wilayah
negara oleh Malaysia atau tindakan sewenang-wenang tentara Australia terhadap
nelayan bangsanya Sendiri
Ilustrasi
diatas menunjukan betapa pemahaman tentang Indonesia sebagai negara bangsa,
seperti Jerman, Prancis, Italia, Amerika Serikat, dan Jepang, serta China
maupun India belum sepenuhnya dipahami, dan konsekuensinya adalah diabaikannya
pendidikan nasional seperti sosok guru pembangunan negara bangsa. Di Indonesia,
dalam masyarakat pendidikaan muncul rasa rendah diri masyarakat bangsa
Indonesia. Hal ini dapat ditarik dari kenyataan dari munculnya istilah
“Pendidikan bertaraf Internasional”, “Sekolah Nasional Plus” dan seterusnya.
Istilah-istilah itu menunjukan betapa tidak dipahaminya makna pendidikan
nasional. Bahkan dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional pun
disamping ada ketentuan yang menetapkan perlunya ada standar nasional
pendidikan, pada saat yang sama ada ketentuan agar “Pemerintah dan pemerintah
daerah menyelennggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua
jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf
Internasional”
Diakui
bahwa semua negara bangsa yang kini dominan dalam percaturan global, baik
ekonomi, politik, dan IPTEK, sampai sekarang masih tetap berusaha agar
pendidikan nasionalnya tidak kalah dalam hal mutu dari pendidikan negara lain.
Berbagai pembaharuan yang dilakukan oleh berbagai negara nasional seperti
Amerika Serikat bukanlah untuk menjadi bertaraf internasional melainkan
menjadikan pendidikan nasional yang mutunya dapat bersaing dengan pendidikan
negara lain baik Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, ataupun Belanda.
Peristiwa
ketertinggalan Amerika Serikat dalam teknologi ruang angkasa (Sputnik) pada
tahun 1957 yang menjadi pemicu pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat, tidak
pernah ada istilah menjadikan pendidikan di negara Amerika Serikat bertaraf
internasional. Tetapi hasilnya menjadikan pendidikan Amerika Serikat mampu
mendukung percepatan kemajuan Amerika Serikat disegala bidang kehidupan
sehingga kini menjadi satu-ssatunya negara super power baik politik, ekonomi,
kekuatan Angkatan Bersenjata, dan IPTEK. Dengan kata lain setiap negara diabad
ke 21 ini masih tetap perlu menyelenggarakan pendidikan nasional yang relevan
dengan tuntutan pembangunan negara nasional.
Di era
globalisasi ini percaturan dunia dalam segala bidang, ekonomi, politik, IPTEK,
didominasi oleh negara yang maju dalam segala bidangnya. Baik dalam kaitannya
dengan World Trade Union (WTO), atau PBB segala keputusan yang hasilnya
mempengaruhi hubungan antar negara dipengaruhi oleh negara-negara nasional yang
unggul dalam segala bidangkehidupan dan itu dipengaruhi oleh sistem pendidikan
nasional. Dalam kaitan dengan masih tetap pentingnya negara nasional, Anthony
D. Smith dari London School of Economics menyatakan :
“In this unprecendented situation, nations and
nationalism are necessary, if impalatable, instruments for controling the
descrutive effect of massive social change; they provide the only large-scale
and powerful comunities and belief system that can secure a minimum social cohesion,
order, and meaning in a disruptive and alienating world. More over, they are
the only popular forces that can legitimate and make sense of the activities of
the most powerful modern agent of social transformations, the rational state.
For this reason, nations and nationalism are unlikely to disappear, at least
until all areas of the globe have made the painful transition to an affluent
and stable modernity”
Pandangan
yang diungkapkan Smith diatas, yang sengaja dikutip secarara ekstensif,
menunjukan salah satu argumen tentang masih pentingnya negara nasional, dan
dikatakan paling tidak sampai tercapai kemakmuran dan modernisasi yang mantap
serta merata secara global. Dipandang dari tingkat kemakmuran masyarakat bangsa
Indonesia dan pemerataanya, dan tingkat kematangan masyarakat Indonesia yang
modern yang rasional, yang berorientasi IPTEK, yang berbudaya demokrasi, dan
menjunjung tinggi HAM yang masih jauh dari tingkatan yang ssepadan dengan
kemakmuran dan kemantapan masyarakat modern yang demokratis. Bahkan kita masih
berada pada tahap transisi yang memerlukan transformasi budaya, pentingnya
membangun negara nasional yang didukung oleh terselenggaranya satu sistem
pendidikan nasional yang relevan, efisien dan efektif tidak dapat ditolak.
BAB III
PENUTUP
III.1
Kesimpulan
Dari
serangkaian analisis sejak bagian pertama sampai bagian akhir dapat ditarik
beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1)
Bahwa
dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945 tentang upaya mencerdaskan kehidupan bangsa
sebagai salah satu fungsi penyelenggaaraan pemerintahan negara, dan
ditetapkannya pasal 31 dan 32 UUD 1945 untuk menyelenggarakan satu sistem
pengajaran nasional dan untuk memajukan kebudayaan nasional yang merupakan
landasan filosofis dan tujuan diselenggarakan satu sistem pendidikan nasional
hanya dapat dipahami kalau kita memahami latar belakang sejarah dan konteks
sejarah dari gerakan nasional untuk memerdekakan bangsa. Penyelenggaraan
pendidikan nasional merupakan bagian terpadu dari upaya membangun negara
kebangsaan Indonesia, yang adalah negara kesejahteraan yang demokratis
berdasarkan pancasila, seperti tradisi yang telah ditempuh negara-negara
kebangsaan didunia yang kini menjadi negara maju.
2)
Bahwa sejak
para pendiri republik meninggalkan panggung penyelenggaraan pemerintahan negara
perhatian pemerintah untuk menjadikan penyelenggaraan satu sistem pendidikan
nasional sebagai bagian terpadu dari upaya membangun negara bangsa Indonesia
yang maju, cerdas, berkeadilan sosial, dan demokratis berdasarkan pancasila
tidaklagi nampak. Pemahaman tentang makna pendidikan nasional untuk kepentingan
nasionalpun berubah-ubah dari era ke-era berikutnya. Berbagai upaya pembaharuan
pendidikan tidak memperoleh dukungan yang diperlukan. Sistem pendidikan dari
sebuah negara kebangsaan dan kesejahteraan yang demokratis tidak lagi secara
berencana diupayakan untuk dapat mengembangkan potensi peserta didik secara
optimal dan mengarahkannya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Yang
berlangsung hanyalah memperluas kesempatan memperoleh pendidikan tanpa didukung
dengan dana dan persyaratan minimal bagi terselenggarannya proses pendidikan.
3)
Bahwa
penyelenggaraan satu sistem pendidikan nasional akan dapat melaksanakan fungsi
konstitusionalnya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan
kesejahteraan kebudayaan nasional bila pendidikan nasional yang berlangsung
pada setiap satuan dan jenjang pendidikan dapat merupakan proses pembelajaran
yang bermakna proses pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, dan sikap dari
seorang Indonesia yang cerdas, berkarakter, berkepribadian, beriman, bertaqwa,
dan memiliki kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat di era
globalisasi. Untuk itu perlu dirancang , dikembangkan, dan dilaksanakan
pendidikan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang bermakna
learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to
be, yaitu empat pilar belajar yang disarankan oleh komisi internasional untuk
pendidikan abad ke 21 UNESCO.
DAFTAR PUSTAKA
Almufti, inam,
(1999). Learning.The teasure within. Paris: Unesco
BPS, Bappenas, UNDP, (2004). The
economics of democracy. Financing Human
development
in Indonesia. Jakarta: The economycs of democracy
Brumbaugh,
Ribut S, and Lawrence, nathaniel M., (1963). philosophers on
education.Six
essayon the Foundations of western Though. Boston: Houghton Miffin
Demikian contoh Makalah Pendidikan di Era Globalisasi 2016 ini, semoga dapat membantu teman-teman dalam menjadikan rujukan ataupun pencarian dalam penyusunan makalah teman-teman tentang makalah pendidikan di era globalisasi 2016 ini. Terimakasih.